1.800 Lansia Hadiri Peringatan Hari Lansia Bersama PDI-Perjuangan

Politik0 Dilihat

Potretkita.com | Kota Bekasi — Sekitar 1.800 lansia menghadiri kegiatan peringatan Hari Lansia Sedunia dan Hari Kesehatan Mental Internasional bersama PDI Perjuangan. Kegiatan bertema “Jiwa Raga Berdaya, Bermartabat Bersama PDI Perjuangan” itu menyoroti pentingnya menjaga kesehatan sekaligus memastikan para lansia tetap memiliki ruang untuk berkarya dan bersosialisasi.

Photo: Ribuan Lansia saat menghadiri acara peringatan Hari Lansia sedunia dan Hari Kesehatan mental Internasional bersama PDI Perjuangan (Doc.cam)

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan DPP Hasto Kristiyanto mengatakan, perhatian kepada kelompok lanjut usia merupakan bagian dari gerakan kemanusiaan yang harus diwujudkan melalui kebijakan konkret.

Ia menekankan pentingnya memastikan lansia memperoleh pelayanan kesehatan dan ruang sosialisasi yang baik sehingga tidak menjalani masa tua dalam kesendirian.

“Kita ditugaskan untuk mengunjungi para lansia dan mendorong kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada mereka agar mereka tidak sendirian,” kata Hasto. Selepas acara di Gedung Olahraga (GOR) Bang Iyan Kota Bekasi. Kamis (1/10/2026).

Hasto menyebut Kota Bekasi sebagai salah satu daerah yang telah mengembangkan program sekolah lansia. Saat ini, terdapat 28 sekolah lansia yang menjadi ruang interaksi bagi masyarakat lanjut usia.

Menurut Hasto, sekolah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkegiatan, tetapi juga dapat menjadi sarana pemeriksaan kesehatan bagi lansia, seperti konsep posyandu.

Ia menyampaikan rencana membangun kerja sama untuk mengembangkan sekolah lansia sebagai kebijakan strategis kepala daerah dari PDI Perjuangan.

Hasto menilai program tersebut memiliki arti penting karena menjadi penghubung antara generasi masa lalu dan masa depan.

Di sisi lain, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan pentingnya mengubah cara pandang terhadap kelompok lanjut usia.

Tri menyampaikan bahwa lansia perlu ditempatkan sebagai subjek, bukan sekadar objek dalam kebijakan.

“Lansia diharapkan menjadi subjek dan bukan menjadi objek,” ujarnya.

Menurut Tri, meningkatnya angka harapan hidup harus diikuti dengan perhatian terhadap aktivitas dan kehidupan sosial masyarakat lanjut usia.

Ketika seseorang memasuki usia 60 hingga 65 tahun, kata dia, tetap diperlukan kegiatan yang dapat menjaga produktivitas, kesehatan, dan hubungan sosial.

“Para lansia masih bisa berkarya, para lansia masih dibutuhkan, baik itu pemikiran, termasuk keteladanan,” kata Tri.

Tri mengungkapkan, program lansia di Kota Bekasi telah dimulai sejak 2022. Program tersebut diinisiasinya ketika masih menjabat sebagai Plt Wali Kota Bekasi.

Langkah itu diambil setelah melihat struktur umur penduduk Kota Bekasi yang menunjukkan jumlah lansia cukup besar.

Tri mengatakan Kota Bekasi terus berupaya agar keberadaan lansia tidak dipandang sebagai persoalan, tetapi menjadi bagian dari potensi pembangunan.

“Kalau kemudian kita tidak ingin lansia kita menjadi beban, tapi dia justru menjadi faktor pendorong, salah satu unsur bagaimana ikut membangun Kota Bekasi,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, sekitar 1.800 lansia tercatat hadir berdasarkan absensi. Kehadiran mereka sekaligus memperlihatkan kebutuhan terhadap ruang kegiatan yang memungkinkan lansia tetap berinteraksi, menjaga kesehatan, serta berkontribusi melalui pengalaman dan keteladanan.

Komentar