potretkita.com, Jakarta – Peristiwa memilukan kembali datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang anak berusia 10 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya sendiri, diduga dipicu persoalan uang sebesar Rp10 ribu. Tragedi ini sontak menggugah nurani publik dan memantik keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan.
Aktivis perempuan sekaligus alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Nyimas Sakuntala Dewi (NSD), angkat bicara menyoroti tragedi tersebut. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini tidak bisa dilihat semata sebagai musibah keluarga, melainkan cermin buram kegagalan sistemik negara dalam menjamin perlindungan anak dan keadilan sosial.
“Bagi sebagian orang, sepuluh ribu rupiah mungkin tak berarti apa-apa. Namun bagi anak ini, jumlah itu menjadi beban yang begitu berat hingga nyawanya sendiri dipertaruhkan. Ini tragedi kemanusiaan yang tidak boleh dianggap biasa,” ujar Nyimas, Jumat. (6/2/2026).
Nyimas menyoroti minimnya respons publik dan negara terhadap kasus tersebut. Ia menilai tragedi ini nyaris tenggelam tanpa gema, tanpa keberpihakan, dan tanpa empati yang nyata.
“Netizen sering lantang menyuarakan banyak isu, tetapi mengapa suara kita nyaris tak terdengar ketika anak-anak bangsa menjadi korban kemiskinan dan kelalaian sistem?” katanya.
Lebih jauh, Nyimas mempertanyakan kondisi struktural di NTT yang hingga kini masih tercatat sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Menurutnya, kemiskinan yang membelit wilayah tersebut tidak bisa dilepaskan dari kegagalan tata kelola, ketimpangan pembangunan, serta tidak berkelanjutannya kebijakan publik.
“Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah NTT miskin secara alamiah, atau justru dimiskinkan oleh sistem yang tidak adil dan terputus dari perhatian pusat?” tegasnya.
Ia juga menyoroti peran pemerintah daerah serta keterhubungan kebijakan pemerintah pusat yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan masyarakat di wilayah tertinggal.
“Di mana kehadiran kepala daerah? Apakah tangan pemerintah pusat benar-benar tersambung hingga ke rumah-rumah paling sunyi tempat anak-anak menanggung beban orang dewasa?” lanjut Nyimas.
Tak hanya itu, Nyimas turut mempertanyakan peran lembaga perlindungan anak. Menurutnya, tragedi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta seluruh pemangku kepentingan terkait.
“Apakah kita harus menunggu tragedi serupa terulang lagi? Anak-anak tidak boleh dibiarkan menghadapi kerasnya hidup sendirian,” ujarnya.
Padahal, lanjut Nyimas, NTT dikenal sebagai wilayah dengan nilai toleransi, gotong royong, serta religiositas masyarakat yang kuat. Provinsi ini juga memiliki potensi wisata alam yang luar biasa dan peluang besar menjadi destinasi unggulan nasional maupun internasional apabila dikelola secara serius, adil, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
“Ketika kemanusiaan hanya berhenti sebagai slogan, dan empati sekadar hiasan retorika, maka tragedi seperti ini akan terus berulang. Sepuluh ribu rupiah telah ditukar dengan satu nyawa anak bangsa. Ini bukan sekadar kabar duka, ini adalah tamparan keras bagi kita semua,” pungkas Nyimas.
Nyimas Sakuntala Dewi dikenal aktif dalam isu-isu keadilan sosial, perlindungan anak, dan perempuan. Ia saat ini juga menjabat sebagai Penasihat Yayasan Bantuan Hukum Anak dan Perempuan Indonesia, Penasihat Ikatan Wartawan Online (IWO) Kota Bekasi, serta Penasihat Himpunan Masyarakat Peduli Bekasi (HMPB) Kota Bekasi.






Komentar