Satu Ikrar, Berbagai Rumah

Nasional0 Dilihat

Oleh: Nyimas Sakuntala Dewi

Aktivis Perempuan Alumni GMNI

Potretkita.com | Jakarta – Setiap tanggal 28 Oktober, kita berdiri tegak dan mengulang kalimat yang sama: “Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa.” Kita merasakan getaran yang sama, bangga yang sama. Namun setelah bendera diturunkan dan upacara selesai, kita masih melihat banyak nama: Persatuan Pemuda Ambon, Pemuda Batak, Pemuda Bugis, Pemuda Jawa, dan lain-lain.

Lalu muncul pertanyaan yang jujur di hati kita: Kenapa kalau kita sudah satu bangsa, kita masih butuh nama suku dan daerah di depan nama kita? Bukankah Sumpah Pemuda sudah menghapus sekat-sekat itu?

Pertanyaan ini wajar, dan pertanyaan ini justru tanda bahwa semangat Sumpah Pemuda masih hidup di dalam diri kita.

Sebenarnya, berdiri bersama dalam keberagaman tidak berarti kita harus melebur menjadi sama persis. Bersatu bukan berarti menghilangkan identitas asal kita.

Kita boleh bangga menjadi orang Ambon, padang ,papua,kalimantan ,NTT,NTB, sekaligus bangga menjadi orang Indonesia. Kita boleh mencintai bahasa dan adat leluhur, sambil menjadikan Bahasa Indonesia sebagai jembatan yang menyatukan kita semua.

Sumpah Pemuda tidak memerintahkan kita untuk melupakan siapa kita. Ia memerintahkan kita untuk mengakui bahwa di balik segala perbedaan itu, kita punya rumah yang sama  Indonesia.

 

Kelompok pemuda berdasarkan daerah atau suku itu ibarat bunga-bunga yang berbeda warna di satu taman. Keindahan taman itu justru ada karena bunga-bunganya beragam, bukan karena semuanya dipaksa sama. Persatuan yang kuat bukan persatuan yang seragam, melainkan persatuan yang mampu menampung segala perbedaan.

Yang penting bukan nama di depan kelompok kita, tapi arah yang kita tuju. Kalau Persatuan Pemuda Ambon, Pemuda Batak, dan semua kelompok itu semuanya berjuang untuk kebaikan bangsa yang sama, maka nama-nama itu bukan pemisah. Ia justru bukti bahwa dari banyak sumber, mengalir satu tujuan.

Satu ikrar tidak berarti satu nama. Ia berarti satu hati, satu arah, dan satu cita-cita. Semoga ke depannya, kita semakin paham makna ini: berbeda asal, tapi tidak terpisah tujuan. Karena pada akhirnya, kita semua sedang menuju rumah yang sama — Indonesia tercinta. 🇮🇩

 

Komentar