potretkita.com | Bogor – Universitas Borobudur (Unbor) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menggagas program inovatif bertajuk “Sinergi Regulasi Desa Berbasis Digital Dalam Pemberdayaan Ekonomi Sirkular Pengelolaan Sampah Organik KISUCI Menuju Desa Tangguh Iklim dan Mandiri Energi”. Program tersebut dilaksanakan bersama Komunitas Iklim Sungai Cikeas (KISUCI) di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Jawa barat, Jum’at (8/5/2026).

Program ini dipimpin oleh Assoc Prof. Dr. H. KMS Herman, SH., MH., M.Si dari Universitas Borobudur dengan melibatkan tim multidisiplin dari bidang teknologi informasi yakni Ir. Essy Malays Sari Sakti, M.MSI dari Universitas YAI dan dari bidang hukum yaitu Dila Hariyanti Tarigan, SH., MH yang merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Borobudur.
Selain itu, program tersebut juga melibatkan tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Borobudur, yakni Endah Retno Asih, Hexa Christyan Putra, dan Rayhan Dava Batubara yang akan membantu pelaksanaan kegiatan PKM di lapangan.
Program ini dirancang sebagai solusi terpadu dalam mengatasi persoalan pengelolaan sampah organik yang selama ini masih dilakukan secara konvensional dan belum memiliki payung hukum yang kuat di tingkat desa.
Desa Cipambuan dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah organik. Namun, tingginya timbulan sampah rumah tangga dan aktivitas kawasan wisata di Babakan Madang belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang terintegrasi. Kondisi tersebut menyebabkan pencemaran lingkungan, pembakaran sampah terbuka, hingga meningkatnya emisi gas rumah kaca.
Melalui program PKM ini, tim pengabdian akan melakukan penyusunan draft Peraturan Desa (Perdes) tentang pengelolaan sampah organik, penguatan tata kelola kelembagaan KISUCI, serta penerapan sistem digital monitoring pengelolaan sampah berbasis aplikasi.
Masyarakat juga akan diberikan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi seperti kompos, eco-enzyme, maggot, hingga biogas rumah tangga.
Ketua Tim PKM, KMS Herman menjelaskan bahwa pendekatan program ini tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga memperkuat aspek hukum dan ekonomi masyarakat desa.
“Program ini dirancang untuk membangun sinergi antara regulasi desa, teknologi digital, dan ekonomi sirkular agar masyarakat memiliki kepastian hukum sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan sampah organik,” ujarnya. Sabtu (9/5/2026)
KISUCI di bawah pimpinan H. Hayu Prabowo sebagai mitra pelaksana selama ini telah aktif melakukan edukasi lingkungan dan pengolahan sampah organik. Namun, keterbatasan fasilitas produksi, sistem monitoring, serta belum adanya legalitas formal menjadi tantangan utama dalam pengembangan usaha berbasis lingkungan tersebut.
Dalam implementasinya, program ini juga akan menghadirkan teknologi tepat guna berupa biogas digester kapasitas 5.000 liter, mesin penghancur kayu untuk produksi wood pellet, serta platform digital “SI-KISUCI” yang dapat digunakan masyarakat untuk memantau aktivitas pengelolaan sampah secara transparan dan akuntabel.
Program ini mendukung berbagai target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 16 terkait penguatan kelembagaan desa.
Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan agenda nasional dalam pengembangan energi terbarukan dan pengurangan emisi karbon melalui pemanfaatan sampah organik menjadi energi alternatif berbasis biogas.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, program ini diharapkan mampu menjadikan Desa Cipambuan sebagai model desa tangguh iklim yang mandiri energi dan berdaya saing dalam pengembangan ekonomi hijau berbasis masyarakat.





Komentar