potretkita.com, Jakarta – Aktivis perempuan sekaligus alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Nyimas Sakuntala Dewi, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas peringatan Hari Lahir ke-100 Nahdlatul Ulama (NU). Ia menilai NU memiliki peran strategis dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia serta merawat umat menuju peradaban yang bermartabat.
Dalam pernyataannya, Nyimas menegaskan bahwa NU selama satu abad telah konsisten hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dan kebangsaan yang menjaga persatuan, toleransi, serta nilai-nilai nasionalisme.
“Selama 100 tahun, Nahdlatul Ulama telah mengawal Indonesia, merawat umat, dan berkontribusi nyata dalam membangun peradaban yang mulia. NU selalu berada di garis depan untuk bangsa dan negara,” ujar Nyimas, Selasa (2/2/2026).
Menurutnya, NU telah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin yang mumpuni, berjiwa nasionalis tinggi, rasional dalam berpikir, serta memiliki karakter petarung yang tidak pernah mundur setapak pun dalam mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa. Kiprah NU, kata Nyimas, bukan sekadar slogan, melainkan perjuangan nyata yang teruji oleh sejarah.
“NU itu bukan simbol atau jargon. Perjuangannya nyata dan panjang. Sejarah membuktikan banyak tokoh nasional dari NU yang berkorban besar, bahkan berdarah-darah, demi tegaknya republik ini,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas pelaksanaan rangkaian peringatan satu abad NU, termasuk pemberian anugerah oleh PCNU Kota Bekasi, yang dinilainya sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi kader-kader NU dalam berbagai bidang pengabdian.
Sebagai aktivis perempuan, Nyimas menyoroti peran penting NU dalam mendorong nilai keadilan sosial, moderasi beragama, serta penguatan peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ia berharap NU ke depan semakin banyak mencetak kader-kader garda terdepan yang mampu mengawal Indonesia menuju keadilan dan kesejahteraan.
Terkait adanya tokoh NU yang terseret persoalan hukum, Nyimas mengingatkan agar publik tidak melakukan generalisasi. Menurutnya, hal tersebut harus dipahami sebagai tindakan oknum semata dan tidak mencerminkan nilai maupun perjuangan NU sebagai organisasi.
“Seratus tahun bukanlah waktu yang singkat. NU memiliki tanggung jawab historis untuk terus mengawal Indonesia merdeka agar tetap berada di jalur persatuan, kemanusiaan, dan keadilan sosial,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Nyimas berharap NU tetap menjadi pilar utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menjadi teladan dalam membangun kehidupan beragama yang damai, inklusif, dan berkemajuan.





Komentar