NSD : Makna Isra Miraj bagi Indonesia 2026, Dari Peristiwa Kenabian Menuju Kesadaran Spiritual

Agama0 Dilihat

potretkita.com, Jakarta – Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW kembali hadir di tengah dinamika sosial, politik, dan kemanusiaan yang semakin kompleks pada tahun 2026. Di tengah kemajuan teknologi dan menguatnya rasionalitas modern, peristiwa agung Isra Miraj kerap diperingati sebatas seremonial, tanpa perenungan mendalam terhadap makna spiritual dan nilai keteladanan yang dikandung di dalamnya.

Aktivis perempuan dan alumnus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Nyimas Sakuntala Dewi, menilai Isra Miraj merupakan peristiwa kenabian yang luar biasa dan sarat ujian keimanan. Menurutnya, perjalanan Rasulullah SAW dalam Isra Miraj tidak dapat didekati hanya dengan logika manusia semata, melainkan menuntut kekuatan iman, keteguhan hati, dan keikhlasan jiwa.

“Isra Miraj bukan perjalanan biasa. Ini adalah proses penerimaan spiritual yang sangat mendalam, di mana Nabi Muhammad SAW dihadapkan pada pilihan-pilihan besar yang menguji keimanan, kesabaran, dan ketaqwaan,” ujar Nyimas dalam refleksinya. Kamis ,(15/1/2026).

Perjalanan Rasulullah SAW menuju Sidratul Muntaha, tempat yang tak terjangkau oleh akal manusia, menjadi simbol puncak kedekatan hamba dengan Sang Pencipta. Dalam konteks kehidupan modern tahun 2026, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak semata hidup dalam ukuran rasional dan material, tetapi juga membutuhkan kekuatan spiritual sebagai penopang moral dan kemanusiaan.

Hal tersebut sejalan dengan pandangan ulama besar, Dr. Yusuf al-Qaradawi, yang menyebut Isra Miraj sebagai salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, sekaligus bukti kebenaran risalah kenabiannya. Pandangan ini menegaskan bahwa iman tidak selalu tunduk pada hukum logika manusia, melainkan bersumber dari keyakinan yang kokoh kepada Allah SWT.

Allah SWT sendiri menegaskan keagungan peristiwa ini dalam firman-Nya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra’: 1)

Selain sebagai mukjizat, Isra Miraj juga mengajarkan keseimbangan antara iman, lisan, dan perbuatan. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menegaskan bahwa iman bukan hanya keyakinan hati, tetapi juga pengakuan lisan dan perwujudan nyata dalam perilaku sehari-hari. Nilai ini menjadi sangat relevan di tengah tantangan moral dan krisis keteladanan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisham, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW dihadapkan pada pilihan antara cawan susu dan cawan khamr. Pilihan Rasul terhadap susu menjadi simbol keteguhan beliau dalam memilih jalan fitrah dan kebenaran. Sebuah pelajaran penting bagi umat Islam di tahun 2026, ketika godaan pragmatisme dan penyimpangan nilai semakin nyata.

Nyimas menegaskan, refleksi Isra Miraj seharusnya menjadi momentum kolektif untuk memperkuat kesabaran, meningkatkan ketaqwaan, serta membangun kesadaran spiritual dalam menghadapi berbagai ujian zaman.

“Isra Miraj harus menjadi inspirasi hidup, bukan sekadar peringatan tahunan. Di tengah tantangan global dan nasional tahun 2026, umat Islam perlu kembali meneguhkan iman sebagai fondasi moral dan sosial,” pungkasnya.