Hidup Sendiri di Rumah Nyaris Roboh Potret Sunyi Ferdinad Jacob yang Terlupakan Sistem

headline news0 Dilihat

potretkita.com, Kota Bekasi Di tengah padatnya geliat permukiman Kayuringin Jaya, berdiri sebuah rumah yang hampir kehilangan bentuknya. Atap rapuh, kayu lapuk, dan rangka yang dikuasai rayap menjadi saksi bisu kehidupan seorang lelaki bernama Ferdinad Jacob (55).

Ia tinggal sendiri sejak kematian istrinya pada 2022, menjalani hari dengan ketidakpastian, dan menunggu bantuan yang mampu menyelamatkan tempat tinggalnya sebelum benar-benar rata dengan tanah.

Pemerintah Kota Bekasi telah memberikan bantuan logistik beberapa hari lalu. Namun, ketika tim liputan mendalami situasi di lapangan, terlihat jelas bahwa bantuan itu baru menyentuh permukaan. Ferdinad membutuhkan lebih dari sekadar paket bahan pokok ia membutuhkan penyelamatan hidup.

Rumah yang Hampir Ambruk Ancaman yang Dibiarkan Berlarut. Dalam penelusuran di lokasi, tim melihat kondisi rumah yang tidak lagi masuk kategori layak huni. Beberapa bagian plafon sudah jebol, dan rangka atap terlihat menggantung tanpa kepastian. Jalan menuju rumah Ferdinad menjadi jalur harian yang ia lewati dengan rasa waswas.

Ketika ditanya apa yang membuat rumahnya sampai dalam kondisi ini, Ferdinad menyampaikan dengan suara yang menahan beban.

“Rumah ini masih dalam angsuran. Lalu rayap merusak kayunya. Ya akhirnya seperti ini jadinya.” ujarnya.

Kerusakan itu bukan berkembang dalam hitungan hari. Ini proses bertahun-tahun dari ketidakmampuan ekonomi, kurangnya pendampingan, dan tidak adanya intervensi renovasi darurat.

Bantuan Pemerintah Datang, Tetapi Tidak Menjawab Masalah Pokok. Rabu lalu, Dinas Sosial Kota Bekasi datang membawakan bantuan. Ferdinad sangat menghargai kedatangan itu. Namun, ketika kami mendalaminya, terlihat jelas bahwa kebutuhan utama tidak tersentuh? keselamatan tempat tinggal.

“Saya terima kasih sekali kepada Pemerintah Kota Bekasi. Bantuan sudah saya terima. Tapi kalau Wali Kota bisa bantu renovasi rumah saya… saya benar-benar bersyukur,” ujarnya.

Di balik ucapan terima kasih itu, tersimpan kekhawatiran besar bagaimana jika rumah itu ambruk ketika ia sedang tidur?

Tidak ada garis polisi, tidak ada peringatan evakuasi, tidak ada catatan prioritas renovasi. Rumah itu dibiarkan apa adanya menunggu waktunya runtuh.

Hidup Sendiri Setelah Kehilangan. Kesunyian yang Tak Terlihat oleh Sistem. Tidak banyak yang tahu bahwa sejak istrinya meninggal pada 2022, Ferdinad hidup sendirian. Tidak ada anak. Tidak ada keluarga lain yang tinggal bersama. Tidak ada yang mendampingi.

“Saya hidup sendiri… sejak istri meninggal,” ucapnya pelan.saat memberikan wawancara pada Kamis,(11/12/2025).

Kesendirian itu membuat banyak hal terabaikan. Pengurusan dokumen, pembayaran angsuran, hingga kemampuan memperbaiki rumah. Beban itu menumpuk sampai semuanya menjadi satu titik krisis rumah nyaris roboh dan tidak punya dana untuk memperbaiki.

Ini bukan sekadar kisah kemiskinan ini tentang seseorang yang jatuh perlahan tanpa sistem yang menangkapnya sebelum menyentuh dasar.

Angsuran 35 Juta? Tembok Besar yang Menghalangi Bantuan Renovasi

Ketika ditelusuri, renovasi rumah Ferdinad terhambat oleh satu variabel besar tunggakan angsuran rumah yang mencapai sekitar Rp35 juta.

Tanpa pelunasan, pemerintah tidak bisa masuk ke ranah renovasi karena status kepemilikan belum lunas.

“Kira-kira apa yang mau dilakukan setelah pelunasan?” tanya tim.

“Saya belum tahu harus apa… tapi saya sangat berharap kepada pemerintah,” jawabnya lirih.

Ini menunjukkan jurang kebijakan: warga rentan seperti Ferdinad membutuhkan mekanisme khusus, bukan syarat administratif yang membelenggu.

Jika seseorang tidak mampu makan layak, bagaimana mungkin ia mampu menyelesaikan puluhan juta angsuran? Namun dibalik Pekerjaan Yang Tidak Stabil

“Kalau saya mau berusaha, keadaan saya seperti ini…” ucapnya.

Ferdinad tidak memiliki pekerjaan tetap. Pendapatannya tidak pasti. Hal itu membuatnya tidak bisa memprediksi masa depan, termasuk rencana membayar angsuran.

“Pekerjaan saya masih semeraut. Saya mau berusaha… tapi keadaan saya seperti ini.” ucapnya.

Ketidakstabilan ekonomi membuat kondisi tempat tinggal makin memburuk, dan buruknya tempat tinggal memperburuk kondisi ekonomi. Ini lingkaran masalah yang tidak bisa diputus hanya dengan bantuan pangan.

Temuan Lapangan Sistem Tidak Menjangkau Warga Paling Rentan. Dari hasil yang ditelusuri tim potretkita.com, Program Rutilahu belum menyentuh Ferdinad. Meski rumah jelas-jelas tidak layak, ia tidak masuk dalam prioritas program renovasi. Monitoring sosial terhadap warga yang kehilangan pasangan atau tinggal sendiri masih lemah.

Padahal kesendirian setelah kehilangan anggota keluarga adalah faktor risiko tinggi dalam kesejahteraan sosial. Bantuan yang diberikan bersifat jangka pendek, padahal masalah bersifat struktural

Ini menimbulkan pertanyaan mendasar apakah bantuan diberikan sebagai respons darurat atau hanya formalitas? Tidak ada intervensi pencegahan rumah roboh. Tidak ada tanda-tanda investigasi teknis, asesmen ahli bangunan, atau rencana evakuasi.

Pertanyaan Besar Siapa yang Bertanggung Jawab Sebelum Rumah Itu Benar-Benar Runtuh?

Kisah Ferdinad mengungkap sesuatu yang lebih besar: sistem bantuan sosial sering kali datang ketika krisis sudah terjadi, bukan sebelum.Pemerintah hadir, tetapi tidak sepenuhnya menyapu akar persoalan.

Liputan ini menemukan fakta bahwa rumah Ferdinad dapat ambruk kapan saja. Namun sejauh ini, belum ada sinyal kuat bahwa ada tim teknis yang diturunkan untuk melakukan intervensi sebelum terlambat.

Jika tidak ada tindakan lanjutan, Ferdinad bukan hanya mempertaruhkan tempat tinggal tetapi juga keselamatannya.

Sebuah Harapan yang Seharusnya Tidak Perlu Ditunggu Terlalu Lama. Di balik kesederhanaannya,Ferdinad hanya ingin satu hal rumah yang aman untuk berteduh. Ia tidak meminta banyak. Ia tidak menuntut.Ia hanya berharap.

“Kalau Bapak Wali Kota bersedia membantu renovasi rumah saya… saya sangat berterima kasih sekali, ” ungkap jacob.

Harapan itu kini menggantung, menunggu apakah sistem akan bergerak lebih cepat daripada runtuhnya dinding lapuk yang setiap hari menjadi ancaman.