potretkita.com, Jakarta – Peringatan Hari Guru Nasional 2025 kembali membuka luka lama dunia pendidikan Indonesia. Aktivis perempuan dan alumnus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Nyimas Sakuntala Dewi, menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah yang dinilainya masih abai terhadap kesejahteraan dan kondisi kerja para guru, khususnya guru honorer.
Dalam keterangannya, Nyimas menegaskan bahwa penghormatan kepada guru tidak cukup diwujudkan dengan seremoni tahunan. Menurutnya, pemerintah seharusnya hadir melalui kebijakan yang konkret, terukur, dan berpihak pada tenaga pengajar yang selama ini menjadi ujung tombak pendidikan nasional.
Guru Masih Berjuang Dalam Ketidakpastian.
Nyimas menyebut bahwa hingga kini banyak guru menjalankan tugas dalam kondisi serba terbatas. Mereka menghadapi ketidakpastian status kerja, beban administratif yang berlebihan, dan fasilitas pendidikan yang tidak memadai terutama di daerah terpencil.
“Pemerintah sering bicara tentang peningkatan kualitas pendidikan, tetapi faktanya banyak guru masih bertahan dalam kondisi yang jauh dari kata layak,” tegasnya. Senin, (24/11/2025).
Ia menilai, selama negara tidak menempatkan kesejahteraan guru sebagai prioritas, maka kualitas pendidikan nasional akan terus berjalan di tempat.
Potret Realitas di Lapangan. Nyimas menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang hingga kini belum ditangani secara serius oleh pemerintah.
Gaji Guru Honorer Masih Memprihatinkan.
Banyak guru honorer menerima upah jauh di bawah standar, bahkan tidak mencapai UMR. Sementara itu, gaji guru PNS golongan III masih berada di kisaran Rp2,7 juta hingga Rp5,1 juta per bulan.
Minimnya Sarana dan Prasarana Pendidikan.
Masih banyak sekolah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti ruang kelas layak, fasilitas praktik, hingga akses internet.
Beban Administrasi yang Menghambat.
Guru diharuskan mengurus tumpukan administrasi yang menyita waktu, sehingga mengurangi fokus mereka dalam mengajar.
Pelatihan Profesional yang Tidak Merata.
Program peningkatan kompetensi dinilai masih terbatas dan tidak menjangkau semua wilayah.
Dampak Sistemik terhadap Pendidikan Nasional.
Menurut Nyimas, rangkaian persoalan tersebut berdampak langsung pada mutu pendidikan Indonesia. Guru yang tidak sejahtera dan tidak didukung dengan fasilitas memadai akan kesulitan memberikan pendidikan berkualitas.
Ia menyebut beberapa konsekuensi yang kini semakin terlihat. Kualitas pembelajaran menurun.Ketika guru tidak mendapatkan dukungan yang cukup, inovasi pembelajaran sulit terwujud.
Motivasi mengajar melemah. Beban berat tanpa kesejahteraan yang sepadan membuat banyak guru kehilangan semangat.
Stagnasi kompetensi guru.Minimnya pelatihan menghambat guru mengikuti perkembangan metode dan teknologi pembelajaran terbaru.
Desakan Nyimas kepada Pemerintah. Berhenti Seremonial, Mulai Prioritaskan Guru
Nyimas menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah untuk memperbaiki kondisi guru secara struktural:
Menaikkan gaji dan tunjangan guru honorer secara signifikan agar sesuai standar hidup layak.
Membangun dan memperbaiki fasilitas pendidikan, terutama di wilayah tertinggal.
Memperluas pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru secara rutin.
Menghilangkan beban administratif berlebihan sehingga guru dapat fokus pada tugas utama mengajar.
Memberikan penghormatan dan pengakuan nyata kepada guru sebagai profesi esensial dalam pembangunan bangsa.
Melalui momentum Hari Guru Nasional 2025, Nyimas Sakuntala Dewi mengajak pemerintah untuk berhenti menjadikan guru sekadar simbol dalam pidato tahunan. Ia menekankan bahwa kesejahteraan guru adalah fondasi utama masa depan pendidikan.
“Jika negara sungguh-sungguh ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, maka dimulai dari menyejahterakan mereka yang setiap hari mencerdaskan anak-anak kita,” pungkasnya.
