Akademisi Nilai Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional Sudah Tepat

Nasional0 Dilihat

potretkita.com, Kota Bekasi – Penetapan Presiden kedua RI, Soeharto, sebagai pahlawan nasional oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memunculkan beragam reaksi di tengah masyarakat. Di antara suara yang mendukung, akademisi dan praktisi pendidikan Gandana Gultom menilai kebijakan tersebut tepat dan memiliki dasar kuat dalam sejarah pembangunan bangsa.

Gultom mengatakan, pengalamannya sebagai pengajar mata pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa pada 1986 memberinya perspektif langsung mengenai perbedaan kondisi masyarakat di era kepemimpinan Soekarno dan Soeharto.

“Saya sangat setuju dengan penetapan ini. Pada masa Presiden Soekarno, saya masih SD dan banyak masyarakat makan jagung karena kesulitan pangan. Namun di era Soeharto, kondisi itu berubah total,” ujarnya saat ditemui di Teluk Pucung, Bekasi Utara, Rabu (19/11/2025).

 

Ketua Yayasan Pelayanan Pelita Kasih itu menilai pembangunan pada masa Orde Baru membawa dampak signifikan, terutama dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan infrastruktur. Ia mencontohkan distribusi pupuk hingga ke desa-desa dan pembangunan yang menjangkau wilayah terpencil.

“Saya mendirikan sekolah di Wamena pada 2003, padahal saya belum pernah ke Papua sebelumnya. Itu semua berkat fondasi pembangunan yang sudah diletakkan,” ungkapnya.

Menurut Gultom, peran Soekarno dan Soeharto tidak dapat dibandingkan secara linear karena keduanya memiliki kontribusi berbeda yang sama-sama penting bagi Indonesia.

“Soekarno bersama para pendiri bangsa merebut kemerdekaan, sementara Soeharto mempertahankannya. Dalam pekerjaan apa pun, mempertahankan itu lebih sulit,” tegasnya.

Terkait kritik mengenai isu hak asasi manusia yang sering dikaitkan dengan Soeharto, Gultom menilai sudut pandang tersebut tidak seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam penetapan gelar pahlawan.

“Tidak ada manusia yang sempurna. Penilaian harus proporsional, melihat kontribusi besar yang telah diberikan. Saya yakin, kalau masyarakat diminta menandatangani dukungan, hasilnya akan positif,” katanya.

Gultom juga mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang berupaya menyatukan para mantan presiden yang masih hidup. Menurutnya, persatuan di tingkat pemimpin nasional sangat penting untuk mempercepat pembangunan.

“Kekurangan presiden sebelumnya harus disempurnakan presiden berikutnya. Mereka harus bersatu. Presiden dan wakil presiden tidak boleh menyimpan dendam,” tuturnya.

Kepada pihak yang menolak penetapan Soeharto sebagai pahlawan nasional, Gultom mengimbau agar melakukan introspeksi.

“Jangan hanya melihat sisi negatif. Tanyakan apa yang sudah kita lakukan untuk negeri ini. Jangan menuntut orang lain berbuat baik jika kita sendiri tak melakukan apa-apa,” ujarnya.

Ia menutup pernyataan dengan menegaskan bahwa gelar pahlawan tidak hanya untuk tokoh yang berjuang di masa peperangan, tetapi juga mereka yang memberi kontribusi besar bagi bangsa di masa damai.

“Mari dukung pemerintahan yang baru. Lakukan hal baik terlebih dahulu sebelum mengkritik,” pungkasnya.