Potretkita.com, Kota Bekasi – Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Grand Center Point (GCP) terus menunjukkan peran aktifnya dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis di lingkungan hunian vertikal.
Melalui kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan seluruh warga, baik muslim maupun non-muslim, Masjid GCP menjadi contoh nyata bahwa tempat ibadah juga bisa menjadi pusat toleransi dan kebersamaan.
Kegiatan perdana masjid ini diawali dengan acara aqiqah anak dari jamaah, Anggita Shafira Ashar. Acara tersebut digelar selama dua hari 8-9 itu, bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat hubungan sosial antarwarga.
Ketua Harian DKM sekaligus Ketua Panitia acara, Agus Supriyono, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat silaturahmi lintas agama di lingkungan apartemen.
“Masjid ini milik warga Grand Center Point, jadi sudah seharusnya melayani seluruh warga tanpa melihat latar belakang. Kami ingin menjadikan masjid sebagai wadah pemersatu dan pusat kegiatan sosial kemasyarakatan,” ujarnya.
lebih lanjut,Agus menjelaskan bahwa Persiapan acara dilakukan selama dua minggu dengan melibatkan panitia dari berbagai kalangan. Menariknya, struktur kepanitiaan juga mencakup warga non-muslim sebagai bentuk implementasi nyata toleransi beragama.
“Kami berada di bawah naungan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi, sehingga kegiatan ini kami rancang untuk mempererat hubungan antarumat beragama di lingkungan apartemen,” tambah Agus.
Antusiasme warga pun tinggi. Sekitar 200–300 orang hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk jamaah masjid, penghuni, dan pemilik unit apartemen. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya doorprize senilai sekitar Rp30 juta, hasil donasi pribadi dari keluarga jamaah yang mengadakan aqiqah.
“Ini bentuk rasa syukur warga yang ingin berbagi rezeki. Semangatnya bukan sekadar hadiah, tapi bagaimana kebahagiaan itu bisa dirasakan bersama,” kata Agus.selepas acara Sabtu ,(8/11/2025).
Sementara itu, Dewan Pembina Masjid GCP, Aji Ali Sabana, menilai kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam menghidupkan fungsi masjid secara lebih luas.
“Masjid tidak hanya tempat ibadah ritual, tapi juga pusat kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah pun dulu menjadikan masjid sebagai tempat bermusyawarah, pendidikan, dan pelayanan umat,” jelasnya.
Aji juga menegaskan pentingnya menjadikan masjid di hunian vertikal sebagai ruang inklusif yang mampu merangkul semua kalangan.
“Melalui kegiatan seperti aqiqah dan olahraga bersama, warga muslim dan non-muslim bisa saling berinteraksi. Dari situ tumbuh komunikasi, rasa kebersamaan, dan akhirnya tercipta toleransi,” katanya.
Selain kegiatan keagamaan, DKM juga menggelar lomba-lomba olahraga seperti catur, tenis meja, dan gaple, yang menjadi ajang silaturahmi warga.
“Olahraga ini menjadi media komunikasi yang efektif. Kadang orang canggung bicara soal agama, tapi lewat olahraga bisa saling mengenal dan akrab,” tambah Aji.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada FKUB Kota Bekasi dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bekasi yang turut hadir dan mendukung kegiatan tersebut.
“Ini bukti bahwa masjid di lingkungan vertikal juga bisa aktif dan produktif. Kita berharap masjid Grand Center Point menjadi inspirasi bagi hunian vertikal lain di Kota Bekasi,” tandasnya.
Tidak berhenti di situ, DKM GCP juga telah menyiapkan agenda lanjutan untuk memperkuat kebersamaan warga, salah satunya Turnamen Catur se-Jabodetabek memperebutkan Piala Masjid Grand Center Point yang akan digelar awal tahun mendatang.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi agenda tahunan agar semangat silaturahmi dan kebersamaan terus terjaga,” tutur Agus Supriyono.
Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari Ketua DMI Kota Bekasi, Dr. KH. Jaja Jaelani, serta perwakilan FKUB, Cecep Suherlan, yang hadir dalam acara tersebut. Mereka menilai Masjid GCP telah menjadi simbol positif keberagaman dan kerukunan di tengah masyarakat urban.
“Bekasi ini miniatur Indonesia. Jika toleransi bisa hidup di hunian vertikal seperti Grand Center Point, berarti kita bisa menjaga semangat kebinekaan di tingkat yang lebih luas,” tutup Aji Ali Sabana.
