Semangat Sumpah Pemuda dari Timur: Kisah Pemuda Maros yang Sukses di Kanada

headline news0 Dilihat

Potretkita.com, Kota Bekasi – Seorang pemuda asal Maros, Sulawesi Selatan, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah halangan untuk menggapai mimpi. Kisahnya yang penuh tekad ini menjadi refleksi mendalam tentang makna sejati Sumpah Pemuda, sebuah semangat yang terus relevan hingga di era digital.

Kisah inspiratif ini dibagikan oleh Nyimas Sakuntala Dewi, seorang aktivis perempuan dan alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), setelah pertemuannya dengan sang pemuda pada tahun 2012 silam.

Pertemuan tak terduga itu terjadi saat Sakuntala sedang transit di Makassar dalam perjalanan menuju Luwu Banggai. Ia menerima tawaran seorang pemuda yang ramah untuk mengantarkannya berkeliling kota.

“Tanpa berpikir panjang saya terima saja tawarannya, daripada saya bosan di bandara,” ujar Nyimas.

Tekad Baja dan Pantang Menyerah

Selama perjalanan, keduanya terlibat dalam percakapan yang mendalam. Saat ponsel pemuda itu berdering, ia meminta izin untuk menerima panggilan dari ibunya yang mengingatkan untuk salat dan makan. Momen sederhana ini meninggalkan kesan mendalam bagi Nyimas, yang melihat betapa kuatnya ikatan keluarga pemuda tersebut.

Obrolan berlanjut saat keduanya menikmati coto. Dari situlah Sakuntala mengetahui bahwa pemuda tersebut adalah anak sulung dari tiga bersaudara yang telah kehilangan ayahnya sejak kecil.

“Bapak saya meninggal dunia saat saya masih SD,” tutur pemuda itu, memulai kisahnya.

Dengan penuh semangat, pemuda itu bercerita tentang perjuangannya membantu ibu berdagang dan melakukan berbagai pekerjaan serabutan demi bisa terus bersekolah bersama adik-adiknya.

“Tidak mudah, Bu, tetapi saya percaya tidak ada jalan yang tertutupi selama kita punya kemauan yang kuat untuk maju,” katanya penuh keyakinan.

Ia bahkan bersyukur atas kondisi sulit yang ia alami.

“Mungkin kalau orang tua saya kaya, saya bisa jadi malas, Bu,” tambahnya sambil tersenyum.

Dari Instruktur Les hingga Studi di Kanada

Kisah pemuda itu semakin mengejutkan Sakuntala. Selain membawa mobil, pemuda itu juga berprofesi sebagai instruktur les bahasa Jepang dan matematika untuk membiayai kuliahnya di semester tujuh. Sebuah perjuangan yang menunjukkan tekad dan kemandirian yang luar biasa.

Menjelang perpisahan, Nyimas bertanya mengenai pesan pemuda itu untuk anak muda Indonesia dalam rangka Sumpah Pemuda. Dengan mata berkaca-kaca, ia menjawab,

“Jangan jadikan kemiskinan sebagai alasan untuk tidak maju, tetapi jadikan kemiskinan menjadi satu kekuatan untuk maju.” Pernyataan itu membuat Nyimas terdiam dan merenung.

Dua tahun kemudian, Sakuntala menerima kabar yang tak kalah mengejutkan. Pemuda yang ditemuinya itu menelepon dari Kanada, mengabarkan bahwa ia berhasil menempuh studi di sebuah universitas bergengsi. Kisah suksesnya membuktikan bahwa tekad baja yang dimilikinya benar-benar membuahkan hasil.

Sumpah Pemuda di Era Digital Bagi Sakuntala, kisah ini menjadi refleksi akan pentingnya semangat juang di tengah tantangan.

“Kisah anak muda yang berjiwa baja, yang kokoh berdiri tegar dalam menghadapi badai, sampai dia jadikan badai itu sahabatnya,” tulis Nyimas.

Menjelang peringatan Sumpah Pemuda, Sakuntala mengajak pemuda-pemudi di era digital untuk terus menghidupkan semangat Sumpah Pemuda tahun 1928.

Dengan memanfaatkan teknologi untuk berbagi pengetahuan dan berkolaborasi, generasi muda saat ini dapat membuktikan bahwa asal-usul bukanlah penghalang untuk meraih mimpi.

“Teruskan semangat Sumpah Pemuda dengan kerja keras, dedikasi, dan komitmen untuk memajukan Indonesia dan mengharumkan namanya di mata dunia,” ajak Nyimas.

Ia pun menutup pesannya dengan seruan, “Ayo anak muda realisasikan sumpah itu, karena estafet ada di tanganmu!”.

(NSD, 27 Oktober 2025)